Mensyukuri Indonesia kita (menetapi ibadah)

sholat sujud dan beribadah sekolah di jepangSaya menyadari bahwa ini adalah Jepang, bukan Indonesia kita. Dua kali pertemuan dengan Sensei di Makasar dan Gorontalo semakin mempertegas keyakinan itu. Bahwa beda negara akan menimbulkan banyak perbedaan. Bahasa dan makanan sudah barang tentu. Saya pun menyaksikan kebiasaan minum bir itu saat di Sulawesi. Bagi orang Jepang minum bir adalah hal biasa, begitu pula minum sake dan wine. Tidak beda antara pria dan wanita Jepang, sama saja. Di rumah, di kantor, di restoran Jepang, sama saja. “Atus San, di sake inilah kunci enaknya makanan orang Jepang. Makan lalu minum sake,” kata Sensei saya ketika mentraktir pada malam kedua kedatanganku di Matsuyama Jepang. “Maaf Sensei, kalau saya minum sake bisa-bisa makanan yang sudah masuk jadi keluar semua,” jawabku sambil memegangi perut. “O .. tidak papa, saya senang sekali Atus San datang kemari, kita kampain saja”. Hatiku tersenyum senang, alhamdulillaah, selamat. Namun jawaban Sensei yang begitu cepat mengiyakanku betul-betul di luar dugaanku. “Kampain”. Kami pun mengangkat gelas kecil untuk dibenturkan di udara. Sensei melanjutkan dengan meminumnya dan akupun meletakkan kembali gelas kecil berisi sake itu.  Alhamdulillaah, Alloh paring.

Sebagai mahasiswa baru, hari-hari awal di Matsuyama memang mendebarkan, terutama saat Sensei datang menjemput atau memanggilku. Kini, hampir 2 bulan sudah kulalui. Alloh paring, keberuntungan selalu di pihakku. Di laboratorium, kami ber-4, satu orang teman dari Laos bernama Adeng dan 2 orang dari Makasar, Yudi dan Yumena yang biasa kupanggil mbak Yuyi. Di dalam Lab kami, mbak Yuyi punya karpet khusus untuk tempat menggelar sajadah. Sehingga orang Indonesia yang akan menunaikan sholat 5 waktu bisa menggunakannya, termasuk aku. Wah, senangnya ada karpet khusus itu. Hanya saja, kami sedikit kerepotan kalau berwudhu dan buang hajat. Maklum saja, sebagai negara maju, semuanya dibuat serba efesien dan tentu lebih modern dibandingkan Indonesia kita. Kamar mandi di kampus tidak ada bak airnya seperti di Indonesia kita, tidak ada shower yang bisa mengalirkan air. Yang tersedia adalah gulungan tisu, tombol-tombol dan tungkai yang bisa didorong ke bawah. Sudah pasti kami tidak akan bisa wudhu di kamar mandi.  “OK, kalau begitu pilihannya hanya di wastafel,” aku menyimpulkan. Dengan tenang aku mulai berwudhu di wastafel, hingga tiba gilirannya membasuh kaki. “O .. o .. akan kah kuangkat kaki ini ke wastafel ?”. Aku berpaling, melihat kanan dan kiri. Set ! segera kuangkat kaki kanan dan kiriku bergantian, akhirnya kubasuh juga di wastafel. Terpaksa, tidak ada pilihan lagi. Kejadian ini benar-benar mengingatkan aku pada Indonesia kita. Dimana kran-kran wudhu bertebaran di sekeliling masjid dan mushola, bahkan kampus dan perkantoran. Bak air dengan ukuran besar dan kecil.

Selesai wudhu bukan berarti masalah sudah selesai. Di akhir musim gugur ini, aku harus berhemat dalam berwudhu. Sekali wudhu minimal bisa untuk 2 kali waktu sholat. Dzuhur dan ashar, maghrib dengan isya’. Bila tidak, setiap kali berwudhu, udara dingin akan segera menyergap menyebabkan banyak gunung muncul di lengan, kaki dan dada. “Mungkin ini pulalah yang menyebabkan orang Jepang tidak menyediakan baik air di dalam kamar mandi,” pikirku. Di musim dingin tentu airnya akan menjadi sangat dingin, seperti air es. Menegakkan sholat Subuh jadi masalah besar di sini. Aku harus berjuang dalam himpitan suhu maksimal 15C. Terkadang sangat ekstrim dinginnya.

Selain masalah-masalah yang kujumpai tadi, di Matsuyama ini memilih teman yang pas juga menjadi tuntutan bila ibadah kita ingin selalu terjaga. Berteman dengan banyak orang dari berbagai negara jelas akan menimbulkan sejumlah konsekuensi. Suatu saat kami berpergian bersama mengunjungi tempat yang baru, jauh dari kamar. Satu jam, bahkan 2 jam atau lebih dengan bersepeda pulang pergi sangatlah mungkin. Dua temanku dari Nepal tidak tahu kalau aku belum sholat Dzuhur. Temanku dari Laos juga tidak faham kalau sholat Ashar itu harus ditunaikan sebelum matahari tenggelam. Semuanya enjoy … menikmati dunia baru di tempat yang menyenangkan. Sekedar mengambil foto, memandang matahari tenggelam di ujung sungai, atau sambil melirik gadis SMP SMA yang ber-sliweran pulang sekolah di waktu petang dengan pakaian pas-pasan. Sholat mendadak di waktu-waktu yang terbatas tidak semudah seperti di Indonesia kita, mushola dan masjid berjajar di tepi jalan.  Kontras memang. Pernah suatu saat aku sholat di pelataran jinja atau kuil beralaskan jaket UGM-ku. Di atap kapal very rute Matsuyama-Kure-Hiroshima juga pernah kujalani. Minggu lalu ketika kami selesai sholat di halaman rumput sebuah museum di Kure, seorang turis mengambil gambar kami.

Hmm … Indonesia kita, negeri muslim yang begitu menyenangkan. Guru mengajiku banyak, masjid kampungku dekat, dan ibadah pun bisa dengan mudah.

Penulis:

atus syahbudin dosen kehutanan ugm, sekolah di jepang, mahasiswa universitas ehimeAtus Syahbudin, seorang pembelajar yang ingin ‘esok harus lebih baik’; senang berkebun dan berinteraksi 🙂 dengan berbagai logo you tube sekolah di jepangtwitter_logo sekolah jepang atus syahbudin facebook-logo FBkomunitas. Semoga Sahabat berkenan silaturohim >