Mereka TIDAK MENJARAH saat gempa Jepang terjadi

“Sepertinya, salah satunya karena pendidikan sejak usia dini di Jepang, Pak :)”

Sikap Penduduk Jepang

Daerah rawan bahaya PLTN Fukushima Jepang by sekolah jepang
Daerah rawan bahaya PLTN Fukushima (NHK)

Bagaimana takjubnya dunia terhadap perilaku penduduk Jepang pasca musibah tsunami sudah banyak Anda baca. Dunia kagum dengan kedisiplinan dan kerukunan orang Jepang melewati masa-masa sulit. Tak ada rebutan makanan, walaupun perut kosong atau anak menangis. Tak ada saling serobot lalu lintas, meski sudah lebih dari lima jam jalan tidak bergerak. Tak ada amarah atau komplain yang diucapkan, kendati listrik terus-menerus padam dan kereta api tak kunjung datang. Semua orang tahu bagaimana cara menahan diri. Apa yang membuat orangorang Jepang mampu menahan diri seperti itu?

SUMIMASEN

Setiap kali saya bersenggolan di Tokyo atau di Osaka yang padat, kata sumimasen menjadi begitu familier di telinga saya. Begitu cepat orang yang menyenggol mengucapkan kata tersebut yang berarti ‘permisi’ atau ‘maafkan saya’. Anak-anak di Jepang begitu cepat mengucapkan kata itu satu dengan lainnya, disertai anggukan kepala sebagai tanda respek (menghormat –red). Selama beberapa kali melakukan kunjungan dan studi di Jepang, seingat saya hampir tidak pernah saya melihat orang Jepang berkelahi atau rebut mulut. Bahkan saya tak pernah melihat orang-orang Jepang bertatap mata dengan tajam seperti yang sering kita saksikan saat remaja-remaja kita bertengkar. Tawuran? Ini apalagi. Praktis tidak terdengar. Di Anyer, seorang teman yang membuka usaha rumah makan Jepang yang dilengkapi pijat sehat bercerita bahwa pelanggan-pelanggannya semula adalah para eksekutif Jepang yang sedang bertugas di sana. Entah karena apa belakangan di sekitar Anyer datang pekerja asal Korea dan mereka secara beramai-ramai mendominasi tempat pijat. Tentu saja hal ini membuat pelanggan asal Jepang terdesak. Anda tahu apa yang dilakukan keluarga asal Jepang yang terdesak itu? Mereka diam seribu bahasa dan memilih mundur perlahan-lahan. Tak ingin terlibat dalam keributan telah menjadi karakter penduduk Jepang.

Beberapa pemuda magang asal Indonesia yang saya temui di Osaka pada September tahun lalu bercerita bagaimana nilai-nilai itu dibangun di Jepang. Berbeda dengan di Tanah Air, katanya, di taman kanak-kanak mereka tidak diajari matematika. Lantas apa yang diajarkan? “Mencuci piring, mengepel, dan origami,” ujarnya. “Satu lagi, kalau bersentuhan mereka harus cepat cepat bilang sumimasen,” katanya. Berbeda dengan di Indonesia.  Taman kanak-kanak yang tak lain adalah tempat bermain telah berubah menjadi sekolah yang dilengkapi target yang luar biasa ambisius. Di pintu sekolah, ibu-ibu muda menggunjingkan pelajaran berhitung dengan membanggakan anak-anaknya yang katanya sudah pintar menghafal angka 1 sampai 100. Sementara itu, stasiun televisi sangat getol menampilkan anak-anak pandai menghafal nama-nama negara atau bendera berbagai bangsa. Tak ada yang mempersoalkan anak-anak itu berbicara sambil mengunyah makanan atau terduduk- tidur seenaknya. Kita telah lebih mengedepankan aspek kognitif ketimbang aspek psikomotorik yang menjadi pembentuk karakter yang penting.

SOP

Orang-orang Jepang bagi saya adalah sosok yang sangat menarik. Agak pemalu, sangat santun, dan bicaranya halus. Terkesan tidak ingin menonjolkan diri dan secara individu tidak begitu dominan. Namun, bila berada dalam sebuah tim mereka pun menunjukkan keperkasaan. Manajemen Jepang pada dasarnya adalah manajemen SOP (standard operating procedure). Apa pun juga mereka ingin standardisasikan. Prinsipnya semua harus dibuat tertulis, persis seperti filosofi ISO: “write what you do, and do what you write” (Tulis apa yang Anda kerjakan,dan kerjakan seperti yang tertulis).  Dengan modal SOP seperti itu Jepang membangun industrinya dengan detail, terencana, repetisi, dan terkoreksi melalui mekanisme kontrol. Setiap kali seseorang menemukan sebuah produk dari sebuah sampel yang diambil ada yang cacat, proses produksi pun dihentikan. Mereka memencet tombol, mesin berhenti, dan semua orang dalam satu line di pabrik segera masuk ruang rapat. Mereka menelusuri sebab-sebab dan memperbaikinya on the spot. Seorang bintang olahraga baseball Jepang mengatakan: “Yang paling saya bosan bermain di sini adalah seringnya coach meminta time out.” Mereka rewel dan detail, tetapi hasilnya luar biasa. Cerita lain soal SOP dialami istri saya saat dia membeli kamera yang menjadi hobi anak kami. Dua jam dia berbicara dengan petugas hanya untuk meminta agar kamera yang dibelinya dapat diganti pada bagian-bagian tertentu, ternyata tidak selesai-selesai. Pegawai KBRI yang menjemput kemudian memberi tahu kami: “Di sini kalau Anda memesan makanan terimalah sesuai menu. Kalau di Indonesia Anda bisa meminta pesanan makanan ditambahi cabai, kurangi lemak, tambahi jamur atau buat lebih asin, demikian mudah. Di Jepang semua orang bekerja sesuai SOP dan menyesuaikan diri dengan masing-masing selera adalah masalah besar.” Mungkin karena itu pulalah Bapak dan Ibu mengalami kesulitan untuk mengirim bantuan makanan, obat-obatan, pakaian, bahkan relawan kemanusiaan untuk membantu evakuasi para korban Tsunami di Jepang. Semua sudah ada SOP-nya dan standar mereka begitu tinggi.

Kontrol begitu ketat demi sebuah kesejahteraan. Namun apa pun yang terjadi, tetaplah menunduk, mohon ampun, dan berdoalah agar saudara-saudara kita yang terkena musibah di Jepang diberi kekuatan dan semoga arwah para korban diberi ampunan. Kita juga berdoa agar musibah seperti itu menjauh dari Tanah Air.

Penulis: Rhenald Kasali (Ketua Program MM UI)

Sumber: Harian Seputar Indonesia, 17 Maret 2011, halaman 1 & 15