ORGANISASI,PPI Jepang

PPI Aidai (Ehime University) dalam lensa 2008

28 Des , 2008  

Tampil gagah dan mantap berjas; namun juga penyayang binatang 🙂 More…

, , ,

Festival Jepang,SOSIAL DAN BUDAYA

Jepang di akhir tahun

16 Des , 2008  

Ada apa di sini di penghujung tahun 2008 ini ? Selain salju dan musim dingin saya menemukan banyak hal beda yang tak seirama Indonesia kita. Sebentar lagi sekitar 10 hari kami akan menikmati liburan panjang di akhir tahun (winter vacation). Mulai 25 Desember 2008 hingga 5 Januari 2009. Entah apa alasannya mengapa bisa begitu panjang. Kalau karena musim dingin, akhir Januari-awal Februari tentu lebih pantas. Kabarnya suhu udara waktu itu dingin sekali, lebih dingin daripada akhir Desember. Apa mungkin karena pergantian tahun ?  Hm … ada apa sebenarnya ?

1. BONENKAI, kumpul-kumpul akhir tahun yang dimanfaatkan untuk saling bermaaf-maafan, sehingga dalam menyambut tahun baru diliputi hati senang dan bersih hati (seperti hari raya Idul Fitri aja ya …). 2. SHIWASU, membersihkan dan merapikan rumah tahunan (kalau yang ini memang perlu energi dan waktu ekstra, apalagi setahun sekali bersih-bersihnya). 3. OMISOKA, di malam tahun baru, makan toshikoshi soba dan pergi ke jinja/candi (menikmati waktu sambil menunggu pergantian tahun). 4. JOYA-NO-KANE, berangkat ke jinja dan membunyikan bel 108 kali yang bermakna untuk membebaskan penderitaan manusia. (sumber: WGO MIC, edisi Desember 2008)

Nah, kalau waktu liburannya masih sisa banyak, apa lagi ya …. “Pokoke prei dowo Mas, gitu aja kok repot“.

, , , , , , ,

MAKANAN DAN CARANYA

bawa MAKANAN Indonesia

2 Des , 2008  

Dalam 2-3 bulan sebelum berangkat, saya merasa cukup beruntung karena berkesempatan berdiskusi dan chatting dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang akan dan/atau sedang belajar di Jepang. Pada awal September 2008 saya tersadarkan ketika seorang teman bercerita bahwa 2 di antara 4 bagasinya berisi makanan Indonesia. 60% bagasinya adalah 20-an bungkus supermi, 2 kg abon sapi, bumbu instan nasi goreng, kare, sop, lodeh, soto ayam, sate, serta bumbu dapur seperti merica tumbuk, bubuk cabe merah dll.  “Wow … betul juga ya,” pikir saya dalam hati. “Bumbu-bumbu di Jepang harganya sangat mahal,” kata teman saya tadi. “Bisa 2-10x di Indonesia, bahkan lebih,” tambahnya. “Kalau pakaian sih murah-murah di sini,” kata teman saya yang lain yang sedang kuliah di Matsuyama. “BAWA MAKANAN YANG BANYAK“. Itu adalah satu poin penting yang saya dapatkan dari perbincangan kami. Awalnya saya sempat berpikir bahwa pakaian juga sangat penting apalagi bagi yang berangkat di bulan Oktober, karena 2 bulan kemudian musim dingin akan tiba. Sebagian besar bagasi pun akan penuh dengan jaket kulit , selimut tidur tebal, dll. Sisanya baru diisi buku, obat, snak dan barang lain yang tidak begitu penting.

Nah, sekarang setelah mencoba hidup selama 2 bulan di Matsuyama, saya baru dapat merasakan apa yang sebenarnya terjadi.  Bekal makanan dari Indonesia, apalagi cukup banyak ternyata sangat membantu kita. Setidaknya dalam 2 hal ini :

(1) Adaptasi makanan. Menempati daerah baru tentu akan menemui budaya dan bahasa baru. Dalam tata kebudayaan salah satunya adalah makanan, cara pengolahan dan tata cara makan (table manner). Bagi yang sensitif terhadap makanan tentu akan sulit mengganti apa yang kita makan dengan berbagai makanan baru. Apalagi dengan rasa yang jauh berbeda. Masyarakat Jepang telah lama dikenal dengan makanan ikan mentahnya, seperti sushi dan sashimi. Untuk itu, dalam rangka beradaptasi secara bertahap, pada awalnya (dan seterusnya?) kita masih perlu makanan Indonesia sambil mencoba beberapa makanan asli Matsuyama. Hingga pada akhirnya nanti semua makanan sehari-hari kita dapat dipenuhi dengan sayur mayur, bumbu atau jenis makanan lainnya yang tersedia di sini.

(2) Menekan pengeluaran. Membawa makanan dari Indonesia jelas akan menghemat belanja kita sehari-hari di Matsuyama. Apalagi harga sayur dan bumbu di sini cukup mahal. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa dan penguasaan wilayah di tempat yang baru tentu tidak mudah menemukan toko buah, warung sayur, penjaja roti dan ikan, serta supermarket peralatan berkualitas baik dengan harga termurah. Sambil jalan-jalan keliling kota, bertanya tetangga kanan kiri, dan akhirnya kita menemukan semua tadi jelas dibutuhkan makanan Indonesia kita.

IKLIM/CUACA JEPANG,MAKANAN DAN CARANYA

Berat Jepang= makanan + suhu + Y + X + ?

1 Des , 2008  

Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 4 Oktober 2008, di hari ke-3 lebaran Idul Fitri 1429 H. Seingat saya, waktu itu dengan berat badan sekitar 60 kg. Hasil akhir dari – bekerja rutin di kampus – turut serta dalam giat sosial kemasyarakatan + hobi makan tempe dan sayur – namun kurang tidur. More…

, , , , ,

Mahasiswa Jepang

Orientasi Mahasiswa Asing di Ehime

12 Nov , 2008  

OSPEK .. ! Begitulah kira-kira kita mendengarnya di Indonesia.

,

Bahasa Jepang,KOMUNIKASI,Mahasiswa Jepang,SOSIAL DAN BUDAYA

Menghafal Huruf Kanji Jepang

1 Nov , 2008  

oleh Anto Satriyo Nugroho (September 13, 2007)

Menghafal Huruf Kanji

Ada beberapa pertanyaan yang saya terima mengenai tips menghafal huruf Kanji. Saya coba untuk sharing pengalaman saya dulu saat masih belajar bahasa Jepang, barangkali ada manfaatnya. Saya pertama kali belajar bahasa Jepang di Japan Foundation Summit Mas Jakarta. Hari-hari pertama kami belajar baca tulis hiragana dan katakana. Kalau tak salah sejak hari ke-11 kursus, kami mulai belajar cara baca dan tulis Kanji. Suripno Sensei lah yang mengajar kami dengan sabar urutan stroke saat menulis huruf masing-masing huruf. Untuk menghafalkan huruf tersebut, banyak di antara kami yang membuat kertas kecil panjang yang bisa dilipat menjadi kecil, bertuliskan huruf-huruf Kanji yang sedang kami pelajari. Kertas hafalan itu kami bawa kemana-mana, dan kami bisa belajar menghafal tulisan tsb. saat naik bis ke sekolah. Kanji yang kami pelajari saat itu mungkin masih sekitar 200 huruf. Selain pelajaran Kanji, kami belajar More…

, ,

AGAMA DAN KEPERCAYAAN,Bahasa Jepang,Cobaan di Jepang,MAKANAN DAN CARANYA,SOSIAL DAN BUDAYA

Culture Shock malam pertama di Jepang

20 Okt , 2008  

Culture Shock untuk sekolah di jepang

vietjapa.seesaa.net

Culture Shock. Itulah 2 kata yang sering kudengar dari orang-orang yang berpergian ke tempat yang baru. “Kamu akan jadi seperti orang bodo, keahlian kita jadi tidak berguna. Masalahnya apa? karena kita tidak dapat berkomunikasi”.  Begitulah salah satu nasehat teman sejawat ketika saya pamitan ke Jepang. O o ..  Memang harus diakui, hingga detik-detik keberangkatanku ke Jepang aku masih belum mahir berbahasa Jepang. Padatnya aktivitas sosial More…

, , , , , ,

Pesawat Jepang,TRANSPORTASI

Atus dan Sakura: saat awal menapak Jepang

15 Okt , 2008  

Kawan, dulu kita semua telah berusaha, selalu mencoba untuk sukses, terus berdo’a dan pasrah akan hasilnya. Alloh jualah yang Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kita semua. “nrimo ing pandum

Sabtu/4 Oktober 2008 adalah hari pertamaku tiba di Jepang. More…

, , , , , ,

JEPANG MAJU, MENGAPA?,KENSHUSEI,Kerja tim Jepang,Mahasiswa Jepang,ORGANISASI,PPI Jepang,SEKOLAH DAN PERNIKNYA

PPI AIDAI (komsat Ehime University), Korda Shikoku, Jepang

15 Okt , 2008  

PPI Aidai merupakan Persatuan Pelajar Indonesia yang sedang belajar di Ehime Prefecture, Jepang. Saat ini sekitar 25 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia sedang menimba ilmu di sini. Ada yang dari Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Makasar,  Samarinda, Gorontalo, dll. Sebagian besar anggota PPI More…

, , ,

AGAMA DAN KEPERCAYAAN,Islamic Center Jepang

Merasakan sholat jumat berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris di Jepang

11 Okt , 2008  

Setelah merasakan dan menikmati sholat jumat berbahasa Indonesia dan Arab di Indonesia. Akhirnya, pada jumat minggu I bulan Oktober 2008 ini saya berkesempatan menunaikan sholat jumat berbahasa Inggris di Jepang. Bertempat di ruang internasional Universitas Ehime (kampus utama Johoku.) ada sekitar 25 More…

, , ,