Buah dan sayur Jepang,MAKANAN DAN CARANYA,VEGETASI DAN POHON JEPANG

Mensyukuri Indonesia KITA (buah dan sayur)

11 Sep , 2010  

Mencoba hidup di negeri tetangga (Jepang -red) saya kira menjadi dambaan setiap orang. Mungkin hanya sekedar menikmati udara segar atau untuk membanting tulang memperoleh upah kerja yang lebih baik. Menambah gelar juga termasuk salah satunya, terutama di negara-negara maju seperti USA, Inggris, Jerman, Australia, Jepang dan Belanda. Setelah hari silih berganti, hitungan bulan terus bertambah, apa hendak di kata, ternyata hidup di negeri orang tidak selalu indah seperti diangan-angan. “Mensyukuri Indonesia kita More…

, , , ,

Bahasa Jepang,MAKANAN DAN CARANYA,SD Jepang,SEKOLAH DAN PERNIKNYA,SOSIAL DAN BUDAYA

Anakku masuk SD Jepang, persiapan apa ya?

1 Apr , 2010  

 

atus di SD Saijo, Ehime, Jepang dengan batik Indonesia di Jepang, ada seragam SD Jepang, ruang kelas SD Jepang, tas Jepang, gadis jepang, hasil karya siswa SD JepangPertama-tama saya mengucapkan Selamat kepada Sahabat Sekolah Jepang yang anaknya Insya Allah akan masuk SD Jepang bulan April nanti. Mudah-mudahan persiapannya sudah dilakukan sejak saat ini dan juga mudah-mudahan dalam waktu singkat anak kita dapat cepat More…

, , , , , , , , , , ,

Mahasiswa Jepang,MAKANAN DAN CARANYA,SOSIAL DAN BUDAYA,Tanaman Jepang,Teknologi Jepang mapan,VEGETASI DAN POHON JEPANG

Petik jeruk Jepang di Muchachaen

2 Jan , 2010  

ORANGE PLUCK PROGRAM, Ehime University Japan.

Saturday and Sunday / December 7-8, 2008, 3 Indonesian students and 1 Lao Student under supervisor Ass. Prof. Dr. K. OSOZAWA went to Muchachaen company. This activity is one of many programs More…

, , , , , , ,

MAKANAN DAN CARANYA,Pemberian Jepang,SOSIAL DAN BUDAYA

お歳暮 ‘oseibo’ dari Keluarga Kuramoto San

21 Des , 2009  

kerang mama eiko

Cerita ini bermula dari coretan Eiko San di wall FB saya. Tahun 2008 lalu, tepatnya di bulan Oktober, saya pernah menginap di rumahnya (homestay) selama 2 malam. Beliau baik hati dan begitu perhatian dengan keluarga kami.

Hi Atus. I ordered edible shells to your family. It will arrive there after a few days. It is “oseibo” More…

, , ,

MAKANAN DAN CARANYA,Sea food Jepang

HEMAT sea food di Matsuyama

26 Mar , 2009  

Ada banyak cara berhemat di negeri Sakura. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang cara berhemat di Kota Matsuyama. Mari kita mulai dari berburu sea food: Ikan, udang, gurita dan cumi-cumi. Bagi yang senang sea food mungkin akan betah tinggal di Matsuyama. Bagaimana tidak? Di sini harga hasil tangkapan laut, seperti ikan, udang dan cumi-cumi tidak begitu mahal. Sebagian bahkan relatif sama dengan harga di Indonesia kita bila di rupiahkan atau lebih murah. Kondisinya masih segar bugar, karena baru saja ditangkap serta aman dari limbah industri. Pantai dan lautnya nampak bersih dari sampah dan limbah lainnya. Kerang pun banyak dijual dengan variasi jenis dan ukuran. Nah, walaupun harga seafood di supermaret relatif murah dibandingkan makanan lainnya, tapi kalau mau yang lebih murah lagi, berkunjunglah ke Pak Tua. Ya , Pak Tua, begitulah kami , para mahasiswa Indonesia memanggilnya. Penjualnya seorang lelaki yang sudah berumur, kira-kira 60 tahun. Mangkal dengan mobil pick up-nya di belakang SD dari jam 10 sampai jam 1 siang. Tidak masalah bila belum lancar berbahasa Jepang. Cukup tunjuk seafood yang diincar sambil berkata: “Ikura desu ka?” (harganya berapa?). Pak tua akan segera berkata dalam bahasa jepang dan itulah harganya <smile>. “hyaku-en, (100 yen, kira-kira setara Rp 10.000), hyaku goju-en (150 yen), nihyaku-en (200 yen), sanbyaku-en (300 yen)  ..” Kalau sepakat, pak tua pun segera membungkus dengan koran dan memasukannya ke dalam plastik. Murah, segar dan dapat banyak 🙂

, , , , , , , ,

MAKANAN DAN CARANYA

bawa MAKANAN Indonesia

2 Des , 2008  

Dalam 2-3 bulan sebelum berangkat, saya merasa cukup beruntung karena berkesempatan berdiskusi dan chatting dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang akan dan/atau sedang belajar di Jepang. Pada awal September 2008 saya tersadarkan ketika seorang teman bercerita bahwa 2 di antara 4 bagasinya berisi makanan Indonesia. 60% bagasinya adalah 20-an bungkus supermi, 2 kg abon sapi, bumbu instan nasi goreng, kare, sop, lodeh, soto ayam, sate, serta bumbu dapur seperti merica tumbuk, bubuk cabe merah dll.  “Wow … betul juga ya,” pikir saya dalam hati. “Bumbu-bumbu di Jepang harganya sangat mahal,” kata teman saya tadi. “Bisa 2-10x di Indonesia, bahkan lebih,” tambahnya. “Kalau pakaian sih murah-murah di sini,” kata teman saya yang lain yang sedang kuliah di Matsuyama. “BAWA MAKANAN YANG BANYAK“. Itu adalah satu poin penting yang saya dapatkan dari perbincangan kami. Awalnya saya sempat berpikir bahwa pakaian juga sangat penting apalagi bagi yang berangkat di bulan Oktober, karena 2 bulan kemudian musim dingin akan tiba. Sebagian besar bagasi pun akan penuh dengan jaket kulit , selimut tidur tebal, dll. Sisanya baru diisi buku, obat, snak dan barang lain yang tidak begitu penting.

Nah, sekarang setelah mencoba hidup selama 2 bulan di Matsuyama, saya baru dapat merasakan apa yang sebenarnya terjadi.  Bekal makanan dari Indonesia, apalagi cukup banyak ternyata sangat membantu kita. Setidaknya dalam 2 hal ini :

(1) Adaptasi makanan. Menempati daerah baru tentu akan menemui budaya dan bahasa baru. Dalam tata kebudayaan salah satunya adalah makanan, cara pengolahan dan tata cara makan (table manner). Bagi yang sensitif terhadap makanan tentu akan sulit mengganti apa yang kita makan dengan berbagai makanan baru. Apalagi dengan rasa yang jauh berbeda. Masyarakat Jepang telah lama dikenal dengan makanan ikan mentahnya, seperti sushi dan sashimi. Untuk itu, dalam rangka beradaptasi secara bertahap, pada awalnya (dan seterusnya?) kita masih perlu makanan Indonesia sambil mencoba beberapa makanan asli Matsuyama. Hingga pada akhirnya nanti semua makanan sehari-hari kita dapat dipenuhi dengan sayur mayur, bumbu atau jenis makanan lainnya yang tersedia di sini.

(2) Menekan pengeluaran. Membawa makanan dari Indonesia jelas akan menghemat belanja kita sehari-hari di Matsuyama. Apalagi harga sayur dan bumbu di sini cukup mahal. Dengan keterbatasan kemampuan bahasa dan penguasaan wilayah di tempat yang baru tentu tidak mudah menemukan toko buah, warung sayur, penjaja roti dan ikan, serta supermarket peralatan berkualitas baik dengan harga termurah. Sambil jalan-jalan keliling kota, bertanya tetangga kanan kiri, dan akhirnya kita menemukan semua tadi jelas dibutuhkan makanan Indonesia kita.

IKLIM/CUACA JEPANG,MAKANAN DAN CARANYA

Berat Jepang= makanan + suhu + Y + X + ?

1 Des , 2008  

Saya berangkat ke Jepang pada tanggal 4 Oktober 2008, di hari ke-3 lebaran Idul Fitri 1429 H. Seingat saya, waktu itu dengan berat badan sekitar 60 kg. Hasil akhir dari – bekerja rutin di kampus – turut serta dalam giat sosial kemasyarakatan + hobi makan tempe dan sayur – namun kurang tidur. More…

, , , , ,

AGAMA DAN KEPERCAYAAN,Bahasa Jepang,Cobaan di Jepang,MAKANAN DAN CARANYA,SOSIAL DAN BUDAYA

Culture Shock malam pertama di Jepang

20 Okt , 2008  

Culture Shock untuk sekolah di jepang

vietjapa.seesaa.net

Culture Shock. Itulah 2 kata yang sering kudengar dari orang-orang yang berpergian ke tempat yang baru. “Kamu akan jadi seperti orang bodo, keahlian kita jadi tidak berguna. Masalahnya apa? karena kita tidak dapat berkomunikasi”.  Begitulah salah satu nasehat teman sejawat ketika saya pamitan ke Jepang. O o ..  Memang harus diakui, hingga detik-detik keberangkatanku ke Jepang aku masih belum mahir berbahasa Jepang. Padatnya aktivitas sosial More…

, , , , , ,