Mar 08 2017


Mengapa Harus Menulis Buku?

This post is also available in: English, Japanese, Arabic

Prof. Bambang Purwanto adalah pemateri hebat kami pagi ini saat sesi ‘Ketika Dosen Menulis Buku‘ di Gedung Pusat UGM, 8 Maret 2017. Pemaparannya menyadarkan akan beberapa hal penting seperti plagiarism dan tanggungjawab dosen membuktikan akumulasi keahliannya. Selain itu, Prof. Bambang juga menguraikan langkah-langkah yang perlu dipersiapkan dalam membangun lumbung buku (baca: sawah buku).

Buku Ideal

Pernahkan membayangkan menulis buku dalam waktu singkat, bukunya laku di pasar dan dicetak berkali-kali, lalu memenangkan penghargaan dan menjadi terkenal? Wah, ini yang ideal 🙂  Untuk itu, mari kita awali dari motivasi saat menulis ya …  

Mengapa harus Menulis Buku?

Apakah untuk mengumpulkan nilai kum demi kenaikan pangkat dosen? Bila iya, maka itu hanya bernilai 20-40 saja. Menurut Prof. Bambang, saat menulis buku kita akan belajar betapa susahnya menulis buku. Banyak pelajaran kehidupan yang diperoleh, seperti mudahnya kita mencela sebuah buku itu jelek, namun kita sendiri tidak mampu membuatnya. Ini pembelajaran penting terkait penghentian kebiasaan sinisme, belajar untuk menghargai orang lain, mengerti diri sendiri dan menjadi rendah hati.

Di samping itu, memulai menulis buku berarti kesediaan untuk menghadapi tantangan dan menyelesaikannya, perwujudan media komunikasi dan pembagian ide-ide, penonjolan akan potensi diri, pembuktian atas keahlian. Mewariskan materi pembelajaran dalam bentuk buku, baik buku ajar, buku referensi atau buku teks, juga merupakan pertanggungjwaban dosen yang mengajar suatu matakuliah.

Berpusatlah pada Pembaca

Prof. Bambang menekankan bahwa menulis buku itu untuk orang lain, bukan buat penulis. Pasar sasaran buku perlu dipastikan kejelasannya. Pastikan pula buku kita berbeda dengan buku yang sudah ada. Dalam hal ini, pembaca yang membedakannya, bukan kita. Survai pembaca dapat dilakukan untuk memulai menulis buku yang berbeda. Untuk buku yang berbeda, penulis seyogyanya:

1. Yakin dan ahli terhadap apa yang ditulis.

2. Memiliki waktu untuk menulis. Potensi diri kita harus diyakini bahwa kita bisa karena kita juga yakin bahwa buku ini memberikan kontribusi BESAR atau signifikan bagi suatu masalah. Sekecil apapun buku kita akan memberikan sumbangan.

(bersambung)

 

No responses yet




Comments RSS

Leave a Reply