Okt 04 2012


Manfaatkan Waktu Belajar di Luar Negeri

REPUBLIKA.CO.ID. Belajar di luar negeri menjadi impian banyak anak Indonesia. Dari sekian banyak, hanya sedikit yang beruntung. Apalagi yang bebas mengelana menuntut ilmu berbekal beasiswa. Apapun negara tujuannya, tak peduli jenjang yang ditempuh, semuanya menjadi kesempatan yang menguntungkan. Masa depan tampak lebih berkilau dan menjanjikan.

Manfaatkan Waktu Belajar di Luar Negeri Republika Online by Atus Syahbudin  5 Oktober 2012Tahun ajaran baru ini kembali menyajikan senyum lebar dan perasaan bangga para pendatang baru. Takjub dan heran akan negeri lain yang serasa kontras dengan Indonesia. Ambil contoh saja: gedung-gedung megah, infrastruktur jalan yang mulus dan tertata rapi, serta sentuhan teknologi tinggi dalam kehidupan sehari-hari.

Belum lagi budaya tertib masyarakat setempat, semisal: sabar mengantre, disiplin berkendaraan dan membuang sampah pada tempatnya. Perasaan tersebut seringkali berlebihan dan tiba-tiba mengikis rasa ke-Indonesiaan. Manakala teman bertanya: “Di Indonesia seperti apa?”

Selain senyuman lebar, sebagian wajah pendatang telah berubah. Raut muka lama sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali ke Indonesia. Hitungan mundur (countdown) baru saja dimulai, tepatnya 354 hari lagi atau hitungan lainnya. Tak terasa!

Waktu telah berjalan tanpa kompromi. Perasaan menyesal kadang turut menyelimuti. Apakah yang sudah digapai di luar negeri selama ini? Tercapaikah rencana-rencana yang telah ditentukan sebelumnya? Atau jangan-jangan hidup sekedar rutinitas, mengalir tanpa persiapan dan rencana sedikitpun. Nah, coba cermati kembali, selain sibuk di kampus, tentu banyak pilihan kegiatan yang dapat dikerjakan di luar negeri.

1. Mengasah kemampuan Bahasa Inggris atau bahasa setempat.
Ketrampilan penguasaan bahasa menjadi nilai plus tersendiri. Apalagi dibuktikan dengan sertifikat kemampuan bahasa dari lembaga resmi di luar negeri. Cobalah untuk mengikuti tes IELTS, JLPT atau sejenisnya.

2. Menambah uang saku dengan kerja paruh waktu.
Di sela-sela kesibukan, menjadi penerjemah atau bekerja sambilan di toko atau hotel dapat menjadi pilihan.  Selain tambahan uang saku, pengalaman mengenai budaya kerja dan berlatih berkomunikasi dengan bahasa setempat akan meningkatkan performa kerja.

3. Menganyam jejaring kerja sama melalui organisasi.
Para pendatang yang datang dari berbagai latar belakang di Indonesia pasti pilihan dan sangatlah potensial. Sebagian memiliki kecerdasan, sebagian lagi kereligiusan, berjejaring luas, dan berbagai potensi lainnya. Sayang kan kalau di-cuekin. Berusahalah aktif di berbagai organisasi, seperti: Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) mulai dari tingkat universitas, regional, nasional, maupun PPI Dunia (OISAA); organisasi lintas negera di kampus atau aktivitas keagamaan.     

4. Merintis bisnis online atau offline.
Memiliki banyak teman dan akses internet yang cepat membuka peluang baru untuk memulai bisnis baru. Pikirkan dan cermatilah peluang apa saja yang ada di sekitar. Daftarlah kebutuhan apa yang banyak dinantikan. Jangan gengsi! Asal baik dan halal, mencoba berbisnis tidaklah menjadi masalah. Siapa tahu bisnis itu akan berlanjut setelah kembali ke Indonesia.  

5. Mengunjungi berbagai kota dan pilihan tempat-tempat wisata terkenal.
Bagi sebagian, luar negeri identik dengan wisata internasional. Ada perasaan sayang, apabila sudah berada di luar negeri, namun belum mengunjungi berbagai kota dan tempat-tempat wisata terkenal. Memang ada benarnya, tetapi jangan lupa manajemen keuangan tetap harus dikontrol dengan baik.

6. Menikah, memiliki momongan baru dan menyekolahkan anak di luar negeri.
Tidak ada salahnya mencoba yang satu ini. Saat di luar negeri, apabila usia telah matang, menikahlah dengan pilihan jiwa. Memiliki momongan baru dan menyekolahkannya di luar negeri juga terbuka lebar. Tersedianya fasilitas sosial dan kesehatan yang berkualitas serta jaminan kesejahteraan yang memadai adalah beberapa alasan.

Sekali lagi waktu datang dan pergi tanpa kompromi. Hanya ada 365 hari dan 12 bulan setahun, 7 hari seminggu dan 24 jam sehari. Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang.

oleh: Atus Syahbudin (Presidium PPI Jepang 2011-2012)

http://www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/10/04/mbckfn-manfaatkan-waktu-belajar-di-luar-negeri

No responses yet




Comments RSS

Leave a Reply