Cobaan di Jepang

Rindu Istri

22 Jan , 2009  

Menuntut ilmu di luar negeri menjadi kesempatan sangat berharga bagi siapa saja, termasuk saya. Banyak hal positif yang diperoleh. Juga pengalaman luar biasa yang tidak bisa dirupiahkan. Apalagi bila keluarga tercinta ikut serta bersama, menemani hari-hari berat selama menimba ilmu. Makan, ada yang memasakkan; badan capek, ada yang memijatnya <smile>. Gelak tawa 😀 dan senyum manis 🙂 mereka pun menjadi obat penghilang stress.

Ini adalah hari ke-4, tekanan itu berhasil kembali mencuri perhatian saya dan terasa semakin berat.  Berbeda dengan kebanyakan mahasiswa Nepal dan Mesir yang berangkat bersama keluarganya, di sini saya hanya sebatang kara ditemani sepasang meja dan kursi, laptop, serta banyak benda-benda mati lainnya <smile>. Sangat tersiksa rasanya jauh dari keluarga. Angan-angan pun menggoda. Jeda-jeda waktu yang berlalu memang harus dipadatkan dengan berjibum kegiatan positif. Harus berhasil dan harus berhasil. Pelampiasan negatif yang tidak sesuai agama justru kelak akan lebih menyiksa. Bila sampai terpeleset ke pelanggaran atau bahkan sampai zina, harus siap diri mendapatkan 6 konsekuensinya. Tiga diberikan di dunia (menghilangkan wibawa wajah, memperpendek umur, dan mewarisi fakir), serta 3 di akhirat (memperoleh murkanya Alloh, jeleksnya hisaban dan mendapat siksa yang berat) (HR Al Baihaqi). Kalau meremehkan onani dan masturbasi menjadikan tidak adanya pandangan rohmat di hari kiamat.

Yah … hari-hari ini menyajikan rasa lain dari sisi kemanusiaan. Beranjak tidur merupakan saat paling menyenangkan, sambil banyak berdoa dan penuh harap semoga Alloh menganugerahkan suatu mimpi indah, amin. Mohon dibantu doanya ya …  🙂

hikmah: membawa keluarga sejak awal keberangkatan merupakan hal yang sangat memungkinkan. Semuanya dapat dikompromikan dengan supervisor dan tidak ada kata tidak mungkin. Informasi seperti harus 1 tahun, baru keluarga dapat menyusul perlu dibuktikan kebenarannya, karena tidak berlaku secara umum.

, , ,


4 Responses

  1. Hidayah berkata:

    Pak Atus, saya bisa merasakan kerinduan Pak Atus yang sangat mendalam terhadap istri tercinta. Insya Alloh sang istri juga merasakan hal yang sama. Semoga Alloh paring kemudahan, kelancaran dan kebarokahan dalam mempertemukan kedua insan yg dilanda kerinduan. ^^

  2. Wulan berkata:

    Wah, kita senasib pak…..Berat emang, tapi harus dijalanin kan?? Pasti ada manfaatnya kok..
    Akiramenai de kudasai ne … GANBATTE!!! 😀

  3. dodo purnomo berkata:

    sabar nggeh mas, Insya Alloh ini adalah jg bagian dr perjuangan mas Atus yg Alloh berikan.

  4. nurwahid berkata:

    sabar mas..
    semoga Alloh paring lancar barokah…
    segera selesai dan kumpul ma keluarga ( termasuk keluarga besar UGM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.